Pagi yang murung hampir saja mematahkan langkahku
kecewa itu sempat menggelayut dibenakku
Seandainya Dia tak mengajakku untuk berfikir tentang nikmat-nikmat-Nya
hampir saja diri ini terlempar kedalam prasangka-prasangka yang membabi buta
Terima kasih Tuhan....
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
01 Desember 2010
Menabur air mata
Aku selalu menahannya untuk pergi
Layaknya kekasih yang baru saja kembali
Padahal dia juga punya rasa
Rasa rindu pada kasihnya sendiri
Sepertinya tak patut ku tabur air mata di keningnya
Karena diapun ingin pulang kepada-Nya.
Layaknya kekasih yang baru saja kembali
Padahal dia juga punya rasa
Rasa rindu pada kasihnya sendiri
Sepertinya tak patut ku tabur air mata di keningnya
Karena diapun ingin pulang kepada-Nya.
Senja Musim Dingin
Memetik pagi yang ranum
Seperti rindu pada senja musim dingin
Wajahnya lusuh terseret waktu
Tak sempat sapa siang yang harus pulang menjemput malam
ia coba mencari cinta yang tersangkut di ranting waktu
Namun tak pernah ia temukan wajah itu
Hanya janji-janji semu kumbang jalang yang tercecer dibibir bunga.
Seperti rindu pada senja musim dingin
Wajahnya lusuh terseret waktu
Tak sempat sapa siang yang harus pulang menjemput malam
ia coba mencari cinta yang tersangkut di ranting waktu
Namun tak pernah ia temukan wajah itu
Hanya janji-janji semu kumbang jalang yang tercecer dibibir bunga.
Menunggu resah
Malam tetap saja mencumbui pagi
sementara siang menunggu dengan resah bersama awan
Kemana hendak sembunyikan air matanya?
Sedang kecewa menelusuk rongga jiwa
Menyisakan butir-butir rasa tak berwarna.
sementara siang menunggu dengan resah bersama awan
Kemana hendak sembunyikan air matanya?
Sedang kecewa menelusuk rongga jiwa
Menyisakan butir-butir rasa tak berwarna.
Butir-butir Waktu
Rasanya jika aku mengingatmu
baru kemarin kita berjumpa
Seperti tak ingin butir-butir waktu itu berlalu
aku cemburu pada kasihmu
dan aku yakin cemburuku bukanlah dosa
Dunia...
Bukan hanya kau yang ingin segera pulang
tapi juga aku
Sampaikan pada-Nya
aku juga merindukan-Nya.
baru kemarin kita berjumpa
Seperti tak ingin butir-butir waktu itu berlalu
aku cemburu pada kasihmu
dan aku yakin cemburuku bukanlah dosa
Dunia...
Bukan hanya kau yang ingin segera pulang
tapi juga aku
Sampaikan pada-Nya
aku juga merindukan-Nya.
Bisik Hujan
Malam membisikkan hujan
mendung seakan risau dalam riang
Dingin memelukku
Menusukkan rasa di bilah jantung
Rasa itu menyisa hingga fajar mencium keningku.
mendung seakan risau dalam riang
Dingin memelukku
Menusukkan rasa di bilah jantung
Rasa itu menyisa hingga fajar mencium keningku.
14 Juli 2010
Kening Takdir
siang hendak pulang pada wajah malam
Tergurat senandung rindu burung ababil
dalam kepakan sayapnya yang merdu
Penghuni bumi terperangkap dalam kamuflase
Sementara ajal terus mengejarku tanpa lelah
Wajahnya menyala seperti hendak merajamku
Aku berlari
bersama detik-detik yang hampir patah
Meski aku tau esok
Takdir-Nya pasti memaksaku mencium keningnya
Tergurat senandung rindu burung ababil
dalam kepakan sayapnya yang merdu
Penghuni bumi terperangkap dalam kamuflase
Sementara ajal terus mengejarku tanpa lelah
Wajahnya menyala seperti hendak merajamku
Aku berlari
bersama detik-detik yang hampir patah
Meski aku tau esok
Takdir-Nya pasti memaksaku mencium keningnya
Ranting Hujan
Janji kau gantung di ranting hujan
akarnya menyeretku dalam dekap jantung
Ingin kupetik aroma kepalsuan di pelupuk matanya yang biru
namun begitu anggun tuk terluka
laksana buih di bibir lautan
gemericiknya hentikan lari angin
yang hendak pulang dalam rindu
akarnya menyeretku dalam dekap jantung
Ingin kupetik aroma kepalsuan di pelupuk matanya yang biru
namun begitu anggun tuk terluka
laksana buih di bibir lautan
gemericiknya hentikan lari angin
yang hendak pulang dalam rindu
Akar Angin
Bisik embun menyapa gelisah
matanya layu
meronta pagi buta
seakan hendak buang mimpinya
dalam angkuhnya samudera
lalu tenggelam bersama akar angin tak berkelamin
matanya layu
meronta pagi buta
seakan hendak buang mimpinya
dalam angkuhnya samudera
lalu tenggelam bersama akar angin tak berkelamin
Rintik Embun
Malam luruh bersama angin
memeluk sepi
terlelap pada peluk hangat rembulan
Rautnya ranum
memecah sunyi rintik embun
cium mesra bibirnya
lalu ku selipkan di jantungnya yang koyak
memeluk sepi
terlelap pada peluk hangat rembulan
Rautnya ranum
memecah sunyi rintik embun
cium mesra bibirnya
lalu ku selipkan di jantungnya yang koyak
Langit-langit Mimpi
Rindu yang kutitipkan pada sepi
terbang bersama malam yang resah
Menatapku nanar
pecahkan langit-langit mimpi
Menggores dinding sunyi
singgah di belantara kemunafikan
Pupus dibibir bunga yang beranjak layu
terbang bersama malam yang resah
Menatapku nanar
pecahkan langit-langit mimpi
Menggores dinding sunyi
singgah di belantara kemunafikan
Pupus dibibir bunga yang beranjak layu
Melati
Melati angkuh
sendiri di belantara sunyi
Menantang badai nurani
seperti hendak tikam takdirnya
Mentari menyapa hangat lembut di bibirnya
rupanya dia tak sendiri
Melati tetaplah melati
bukanlah maha dewi yang menguasai mimpi-mimpi
sendiri di belantara sunyi
Menantang badai nurani
seperti hendak tikam takdirnya
Mentari menyapa hangat lembut di bibirnya
rupanya dia tak sendiri
Melati tetaplah melati
bukanlah maha dewi yang menguasai mimpi-mimpi
Senyum Yang Terbuang
Senyumnya yang terbuang kini
dia gantung di ujung rindu
Sementara manisnya dia tinggalkan di sela-sela kesunyian
Hanya tersisa butir-butir penyesalan di bibirnya
mengutuk sepi yang tak bertepi..
dia gantung di ujung rindu
Sementara manisnya dia tinggalkan di sela-sela kesunyian
Hanya tersisa butir-butir penyesalan di bibirnya
mengutuk sepi yang tak bertepi..
Langganan:
Postingan (Atom)
